Senin, 20 Agustus 2012

GADIS KRETEK : Napak Tilas Sejarah Perkembangan Industri Kretek asal Kota M





















Jakarta, Masa Sekarang.

“Jeng Yah. “  Sewaktu Pak Soeraja tengah sakit parah, meregang nyawa, tiba-tiba ada nama perempuan lain yang diigau-igaukannya tiada henti. Bukan nama istrinya sendiri, Purwanti, orang yang selama ini mendampingi dan merawatnya setiap hari. Mendengar itu, Purwanti , Sang Istri jelas aja sakit hati setengah mati.  Ia merasa tidak terima. Dengan hati kesal diceritakannya hal itu pada tiga anak laki-lakinya: Tegar, Karim dan Lebas.

Sementara itu, melihat keadaan sang Bapak yang begitu mengkhawatirkan, ketiga lelaki itu pun tak sampai hati. Dan diam-diam sebenarnya ikut-ikutan  penasaran juga. Memangnya siapa sih sosok Jeng Yah yang akhir-akhir ini namanya sering diigau-igaukan oleh Bapaknya itu?

Awalnya, sebagai anak tertua dan pewaris utama usaha kretek Jagad Radja milik Bapaknya, Tegar hendak mengutus paksa adik bungsunya, Lebas untuk pergi mencari informasi tentang Jeng Yah. Tapi berhubung tingkah Lebas yang terkadang cenderung selebor dan lebih sering bikin cemas orang rumah, akhirnya Tegar pun memutuskan untuk ikut-ikutan terjun menyusul adiknya. Begitu juga dengan Karim, si anak tengah. 

Dengan berbekal tekad yang awalnya hanya sebiji jagung, dimulailah petualangan ketiga anak keturuan Soeraja dalam mencari sang sosok misterius bernama Jeng Yah. Mulai dari Jakarta, Kudus hingga Kota M rela mereka jelajahi demi menemukan perempuan yang diharapkan dapat memberikan ketenangan batin bagi jiwa Bapak mereka, jikalau beliau wafat nanti.

Kota M, masa penjajahan Hindia Belanda.

2 orang laki-laki muda, Idroes Moeria dan Soedjagad. Sama-sama bekerja sebagai buruh di tempat pelintingan klobot milik Pak Trisno. Meskipun sama-sama tidak berpendidikan dan tidak bisa baca tulis, dua-duanya punya tekad yang sama-sama kuat: Menjadi pedagang klobot  yang sukses agar dapat mempersunting salah satu anak gadis Sang Juru Tulis terpandang di Kota M, Roemaisa.

Saking serunya, bahkan ketika akhirnya Idroes berhasil merebut hati dan memperistri Roemaisa, keduanya tetap tak berhenti saling sikut-sikutan. Dalam percintaan mungkin saja Soedjagad dikalahkan, tapi dalam urusan dagang, jangan harap ia mau mengalah. 

Dan.. begitulah seterusnya. Dari persaingan cinta di masa muda, perseturuan pun berlanjut dalam dunia dagang. Dari pemerintah Hindia Belanda masih berkuasa, kemudian diambil alih oleh Jepang, sampai masa pemberontakan G30S. Dari jaman masyarakat Kota M masih mengisap Klobot hingga zaman Rokok Kretek, Idroes dan Soedjagad tak pernah berhenti bersaing dan berambisi saling mengalahkan satu sama lain.

Hingga akhirnya nasib mendatangkan sosok wanita istimewa lainnya dalam kehidupan Idroes dan bisnis rokok kreteknya. Wanita dengan tangan sewangi tembakau dan sarat akan cinta yang kelak akan menjadi benang merah penghubung kisah cinta lintas tiga generasi yang dikisahkan dengan sangat gurih dan menarik oleh Ratih Kumala dalam buah karyanya yang kelima ini.


Last Notes from me :
Sebagai pembaca awam, bagi saya Gadis Kretek jelas adalah novel yang amat sangat menarik untuk diikuti. Gaya bahasanya yang segar dan lucu menggelitik seolah membuat saya lupa sama sekali kalau buku ini menyajikan banyak ruang dan waktu didalamnya. Bahkan keseluruhan jumlah tokohnya pun tidak bisa dibilang sedikit.
Latar sejarah perkembangan dunia industri rokok kretek yang dijadikan background cerita disini seolah juga telah mengajarkan saya banyak akan hal-hal baru yang tak pernah saya ketahui sebelumnya. Terutama dalam asal muasal proses pembuatan klobot dan rokok kretek itu sendiri serta sejarah eksistensinya di bumi Indonesia. Dari jaman penjajahan Belanda hingga di masa modern seperti sekarang ini.

Satu hal lagi yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana cara seorang Ratih Kumala mampu menyisipkan peranan besar beberapa tokoh perempuan dalam keseluruhan kisahnya. Tentang betapa ketekunan, kerja keras dan kekuatan hati dari tokoh-tokoh perempuan seperti Roemaisa, Dasiyah hingga Jeng Yah mampu menopang dan justru malah menjadi kunci kesuksesan dalam kelangsungan serta kemajuan industri dagang turun-temurun milik orang-orang berserta sanak keluarga yang mereka kasihi.

Somewhere, sometimes
Frey.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar